Hutang Numpuk, Pinjaman Kredit Informal Jadi Pemicu Keretakan Rumah Tangga

Tribuana Cakrawala Nusantara.com | Lombok tengah
Maraknya praktik pinjaman kredit informal kembali menjadi sorotan serius di tengah masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, keberadaan lembaga pinjaman ilegal yang beroperasi secara sembunyi-sembunyi semakin menjamur, mulai dari warung kecil hingga kawasan permukiman padat penduduk.(27/01/2026)
Sasaran utamanya adalah ibu-ibu rumah tangga yang dinilai membutuhkan dana cepat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Modus yang digunakan terbilang sederhana namun berisiko tinggi.
Para pemberi pinjaman mendatangi warga secara langsung, menawarkan kredit tanpa jaminan dengan proses cepat dan persyaratan yang tampak ringan.
Namun, di balik kemudahan tersebut tersembunyi bunga tinggi serta sistem penagihan yang tidak manusiawi.
Akibatnya, banyak peminjam terjerat hutang berlipat ganda tanpa jalan keluar.
Dampak dari praktik pinjaman kredit informal ini kian mengkhawatirkan.
Sejumlah kasus menunjukkan, hutang yang menumpuk menjadi pemicu utama konflik hingga keretakan rumah tangga. Tidak sedikit ibu rumah tangga yang mengajukan pinjaman secara diam-diam tanpa sepengetahuan suami.
Ketika beban hutang membesar dan tak mampu dilunasi, pertengkaran rumah tangga pun tak terhindarkan.
Ironisnya, tekanan ekonomi dan intimidasi dari penagih hutang mendorong sebagian ibu rumah tangga mengambil langkah ekstrem.
Beberapa di antaranya nekat meninggalkan keluarga dan bekerja ke luar negeri demi menghindari kejaran penagih.
Keputusan tersebut justru memperparah kondisi keluarga yang ditinggalkan, baik dari segi ekonomi maupun dampak psikologis terhadap anak-anak yang menjadi korban keadaan.
Praktik pinjaman kredit informal ini menciptakan lingkaran setan yang terus menjerat kaum ibu rumah tangga.
Rendahnya literasi keuangan masyarakat, ditambah lemahnya pengawasan, menjadi celah besar bagi para pelaku untuk terus menjalankan aksinya.
Kondisi ini menuntut peran aktif pemerintah dan aparat penegak hukum untuk melakukan pengawasan ketat serta penindakan tegas terhadap pelaku pinjaman ilegal.
Selain penegakan hukum, edukasi pengelolaan keuangan keluarga juga perlu digencarkan secara berkelanjutan.
Kesadaran akan pentingnya keterbukaan dalam rumah tangga, perencanaan keuangan yang sehat, serta kewaspadaan terhadap tawaran kredit instan menjadi kunci utama untuk mencegah hutang berubah menjadi bom waktu yang menghancurkan keharmonisan keluarga.
Redaksi
H.sujayadi




